PENDAHULUAN
ada dua jalur komunikasi yang dihadapi manusia dalam hidupnya yaitu jalur komunikasi yang bersifat vertikal ( hablum minallah ) dan jalur komunikasi yang bersifat horizontal ( hablum minannas )
untuk jalur komunikasi yang bersifat vertikal yaitu jalur komunikasi manusia dengan Tuhan. Sedangkan jalur komunikasi yang horizontal ( manusia dengan alam sekitar ) antara lain meliputi jalur-jalur komunikasi: manusia dengan Nabinya, manusia dengan keluarganya ( ibu, bapak, suami/ istri, anak-anak, pembantu rumah tangga, dan lain sebagainya ), manusia dengan dirinya sendiri, manusia ( muslim ) dengan sesama muslim, manusia dengan tetangganya, manusia (muslim) dengan saudara-saudaranya non muslim, manusia dengan bumi dll.
Salah satu dari komunikasi horizontal adalah berbakti kepada kedua orang tua kita. Orang tua adalah orang yang paling banyak jasa-jasanya karena sejak kita masih berada dalam kandungan hingga saat ini kita masih dicukupi segala kebutuhan dan tanpa mereka kita tidak mungkin dapat berbuat apa-apa dan tidak bisa menikmati kahidupan di dunia ini. Oleh karena itu kita harus berbuat baik kepada orang tua kita dan jangan mendurkahinya.
PEMBAHASAN
Birrul Walidain, Prioritas Pertama
Dari jalur komunikasi yang bersifat horizontal (hablum minan nas) yaitu jalur hubungan manusia dengan sesama manusia, maka kedua orang tua yaitu ibu dan bapak, menduduki tempat yang paling istimewa. Bahkan kepada siapa manusia harus berbakti, kiranya ibu dan bapak menduduki tempat kedua sesudah Tuhan dan Rosul-Nya. Karena itu dari kalangan manusia di muka bumi ini, tidak ada seorang pun yang dapat menyamai kedudukan ibu dan bapak yang sangat terhormat ini, apalagi mengalahkannya.
Demikian istimewa dan terhormat kedudukan ibu dan bapak, sampai-sampai Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa:
Artinya:” Keridhoan Allah terletak pada keridhaan ibu bapak dan kemurkaan Allah terletak pada kemurkaan ibu bapak.”[1]
Kedua orang tua kita begitu besar jasanya kepada kita. Tidak ada manusia di muka bumi ini yang lebih besar jasanya kepada kita dari pada ibu bapak kita masing-masing. Dengan sussh payah kita dihamilkan, dilahirkan, didewasakan, dididik, dan dicukupi segala kebutuhan hidup kita. Dan semuanya itu dikerjakannya dengan tulus ikhlas dan kasih sayang.
Karena itu dalam membina jalur horizontal, ibu dan bapak harus mendapatkan prioritas pertama dan utama, lebih dari pada yang lain. Sangat keliru kalo orang membina hubungan baiknya dengan orang lain seperti istri, suami, anak, pacar, teman kerja, tetangga, pejaba dan lain sebagainya, tetapi justru hubungan baiknya dengan kedua orang tua sendiri diabaikan, apalagi didurhakai.
Pendek kata, birrul walidain wajib kita lakukan yaitu berbuat baik atau berbakti kepada kedua orang tua kita masing-masing, dan hal itu hndaknya dalam prioritas yang pertama dari pada berbuat baik kepada lain-lain orang.
Berbuat baik disini mengandung arti yang luas, meliputi pekerjaan apasaja yang dapat disebut baik, yang berupa perkataan, perbuatan dan lain-lain. Dalam Alquran surat Al-Isro` ayat 23-24 dicontohkan berbuat baik kepada kedua orang tua itu, misalnya berkata dengan sopan dan hormat, merendahkan diri dengan kasih sayang, dan berdoa untuk kedua orang tuanya.
Artinya: “ Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan supaya kamu berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya ada dekat dengan mu ( dalam peiharaannua) sampai berumur lanjur, sekali-kali jangan lah kamu berkata kepada keduanya “ah” jangan pula kamu bentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang hormat.
Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang, dan katakanlah: Wahai Tuhanku, kasihanilah kiranya keduanya, sebagaimana keduanya telah mengasihani aku ketika aku masih kecil.”[2]
Implementasi berbakti kepada orang tua antara anak yang satu dengan yang lain mungkin berbeda-beda tetapi yang terpenting adalah bagai mana kita bisa sedikit membalas budi atas jasa –jasa mereka yang sunggung besar dan tak ternilai harganya.
Tanpa Bapak dan Ibu Tak Ada Anak
Marilah kita berfikir, agar kita sadar. Kita mencoba merenungi perjalanan hidup kita semenjak kita masih menjadi setetes benih. Tanpa ibu dan bapak, tak mungkin lahir seorang anak. Semua itu telah sunnatullah. Hanya Nabi Isa AS anak Mariyam saja yang lahir dari seorang ibu tanpa seorang bapak. Allah memang menghendaki yang demikian. Tetapi pada umumnya semua kita yang terlahir di dunia ini ada dua makhluk yang berlainan jenis, yakni ibu dan bapak.
Manakala seorang ibu dan bapak berkumpul dengan ibu, maka tertanamlah benih bakal diri kita dalam kandungan ibu. Benih yang tampak tak berarti itu dikandungnya dari waktu kewaktu. Sebulan sampai tiga bulan barulah benih itu menggumpal menjadi darah. Kemudian empat bulan mulai berubah membentuk menyerupai anak manusia yang masih tak bisa bergerak-gerak. Seorang ibu membawanya kesana-kemari dan menjaganya dengan setia, agar kandungannya tidak terbentur. Dimana dengan benturan benda keras dari luar mengakibatkan kita yang masih empat bulan itu akan menjadi gugur
Dari waktu ke waktu kita berada dalam kandungan. Kita tidak tahu betapa kedua otang tua kita sangat menyayangi kita yang masih menjadi janin dalam kandungan itu. Selama enam tujuh bulan, janin yang dalam kandungan mulai bergerak-gerak. Ada tanda-tanda bergerak-gerak, betapa gembira ibu da bapak. Sang bapak sering mengelus-elus kandungan ibu, sebagai pertanda betapa ia sangat merindukan kita dan mengasihi sepenuh jiwanya.
Mulai usia itu, batapa sang ibu berada dalam penderitaan dan kesengsaraan. Jika siang berjalan terhuyung-huyung karena harus membawa beban janin dalam kandungan. Bila malam badan terasa penat. Sekujur tubh lelah, seakan rontok sama sekali. Pinggang terasa sakit san nafsu makan berkurang. Semakin bertambah usia kita dalam kandungan semakin sengsara sang ibu mengandungnya.[3]
Ketika usia kita dalam kandungan sudah mencapai sembilan bulan sepuluh hari, ibu kita dalam keadaan sakit yang sangat parah. Sakit parah itu bukan disebabkan apa-apa tetapi disebabkan melahirkan kita. Disaat melahirkan kita, sang ibu mempertaruhkan nyawanya. Ada dua kemungkinan, kalau tidak hidup pasti mati. Benar-benar sakit orang dalam keadaan melahirkan. Sebab itulah maka Allah SAW berfirman:
Artinya : “ Dan kami perintahkan kepada manusia ( berbuat baik ) kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan pada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku engkau kembali.” )Surat Luqman: 14)
Begitulah penderitaan orang tua kita semenjak mengandung sampai melahirhan. Tapi penderitaan dan pengorbanan serta rasa kasih sayang tidak terbatas hanya disini saja. Ketika kita masih bayi, bapak dan ibu kita benar-benar menderita. Mereka benar-benar memperhatikan kita. Kalau menangis larut malam, mereka terpaksa bangun untuk menggendong dan mendekatinya. Jika kita sedang sakit, mereka mengobatkannya, jika pakaiannya basah mereka menggantikannya. Batapa mereka merawat dengan kasih sayang dan penuh perhatian. Saat itu kita tidak bisa apa-apa kecuali menangis. Oleh sebab itu, benar kata pepatah “ Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang gala”. Rasa sayang orang tua kepada anak memang tak dapat diukur tetapi kasih sayang anak kepada orang tua terbatas. Apalagi sampai mendurhakai, maka betapa berdosanya diri kita.
Keutamaan Ibu dari Bapak
Ibu dan bapak kita masing-masing adalah orang yang paling besar jasanya kapada kita, terutama sekali ialah ibu.
Tidak ada serang manusia pun di muka bumi ini yang menanggung derita sengsara, susah payah dan lain sebagainya karena kita, lebih daripada ibu kita.
Dalam riwayat Abul Hasan Al-Mawardi menerangkan bahwa pada suatu hari datang seorang laki-laki kepada Rosulullah SAW. Kepada Rosulullah laki-laki itu menerangkan perihal kebaikan yang dilakukannya kepada ibunya. Dikatakan bahwa ia mempunyai seorang ibu. Digendongnya ibunya itu diatas punggungnya. Tidak pernah ia bermasam muka kepadanya, dan diserahan pula kepadanya hasil mata pencahariannya. Kemudian laki-laki itu bertanya:
“ Sudahkah saya membalas budi ibu saya?”. Jawab Rosulullah saw:
‘ Tidak! Membalas satu nafasnya yang panjangpun tidak!” Selanjutnyaketika laki-laki itu bertanyalagi kepada Nabi mengapa demikian, Nabi memberikan jawaban: “ Karena ibumu memelihara kamu dan ia suka kamu panjang umur, sedang kamumemelihara dia tetapi kamu inginkan dia segera mati”.
Menurut ukuran kita, barangkali bakti laki-laki tersebut kepada ibunya seperti yang diterangkanoleh hadits tersebut diatas. Rosulullah mengatakan bahwa hal itu sama sekali belum bisa membalas budi ibunya, bahkan walaupun hanya membalas satu nafas yang panjang pun belum bisa!
Ini menunjukan betapa besar dan betapa agung jasa ibu kepada puteranya. Demikian besarnya, sehingga jasanya itu tidak akan terbalas oleh kebaikan putranya yang bagai mana pun juga!
Sesuai dengan hal tersebut maka wajarlah kalau ibu mempunyai kedudukan sedikit lebih istimewa daripada bapak. Sehingga sebagai konsekwensinya ibu harus mendapatkan perilakuan yang lebih istimewa pula dari pada bapak.
Sabda Nabi SAW:
Artinya: “ Dari abu Hurairah ra ia berkata : “ kali tertentu seseorang lelaki datang kepada Rosulullah SAW lalu bertanya: “ wahai Rosulullah, siapakah yang paling berhak aku pergauli dengan baik?” Rosulullah menjawab: “Ibumu !” Lalu siapa ?” Rosulullah menjawab: “Ibumu !” Lalu siapa !” Rosulullah menjawab: “Ibumu !” Sekali lagi orang itu bertanya : “ Kemudian siapa?” Rosulullah menjawab: “ Bapakmu!”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat lain dikatakan: “Wahai Rosulullah siapakah yang paling berhak aku pergauli dengan baik ?” Beliau menjawab : “ Ibumu, ibumu, kemudian bapakmu, dan orang yang lebih dekat serta orang yang lebih dekat dengan kamu !”.[4]
Pernah juga ada seorang llaki-laki minta izin kepada Nabi untuk ikut berperang membela agama islam. Tetapi ia ditanya oleh Nabi:
“ engkau mempunyai ibu?”. Jawabnya: “Mempunyai”. Nabi memerintahkan:
“ jaga baik-baik ibumu, karena surga itu ada di bawah kakinya” ( riwayat Ibnu Majah)
Dalam pengertian yang sama, dalam hadits lain riwayat Ahmad, beliau bersabda;
‘Surga itu ( terletak ) di bawah telapak Kaki para ibu”.
Jadi Nabi tidak mengizinkan laki-laki tersebut pergi berperang membela agama islam dengan meninggalkan ibunya, sebab hal itu menjadikan ibunya terlantar. Maka berperang untuk keluhuran agama islam pun, tidak dapat mengalahkan kewajiban berbakti kepada ibu. Martabat ibu rupanya masih terlalu tinggi untuk dapat di kalahkan oleh alasan “ jihad” .
Tetapi tentu saja, dengan ini tidaklah berarti bahwa dalam mengutamakan kebaktiannya kepada ibu lantas begitu saja orang boleh memandang enteng dan meremehkan hubungan baiknya dengan bapak. Kedua orang tua semuanya wajib kita muliakan, kita hormati. Hanya saja prioritas pertama adalah ibu.
Nasehat Luqman
Di antara ajaran akhlak islam yang berkenaan dengan akhlak anak kepada ibu bapak terdapat pula pada nasehat-nasehat Luqman kepada putranya. Nasehat-nasehat Luqman ini demikian pentinya, sehingga islam mengabadikannya didalam Al-Qu`ran, bahkan nama Luqman sendiri juga disebutkan dalam Al-Qur`an ( Surat Luqman 12) dan diabadikannya. Dengan dijadikan sebagai nama bagi salah satu Suratnya, yaitu surat yang ke 31.
Surat Luqman merupakan Surat Makkiyah, terdiri dari 34 ayat, diturunkan sebelum Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Madinah. Jadi bukan Surat Madaniyah, sebab Surat Madaniyah turun sesudah Nabi berhijrah.
Luqman bukan Nabi, bukan pula Rosul, tetapi seorang ahli hikmat adan ahli didik yang bijaksan, sehingga ia mendapat gelar “Al-Hakim” (Luqman Hakim= Luqman yang bijaksana)
Adapun nasehat-nasehat Luqman kepada putranya yang diabadikan dalam Al-Qur`an ayat 13-19 adalah sebagai berikut:
- Berjiwa tauhid dan memiliki aqidah yang lurus.
Menurut Luqman adalah memiliki aqidah yang kuat dan lurus, tak tercampur sedikitpun oleh perbuatan syirik. Perbuatan syirik termasuk dalam kedzaliman yang besar.
- Berbakti kepada orang tua
Setiap anak diperintahkan oleh Allah agar berbakti kepada kedua orang tuanya, khususnya kepada ibunya yang telah mengandungnya, melahirkannya dan menyusuinya dengan susah payah.
- Pandai bersyukur
Rasa syukur ini sebagai realisasi atau pengakuan terhadap nikmat-nikmat Allah yang telah dianugrahkan Allah kepadanya serta realisasi pengakuan terhadap pengorbanan orang ta terhadap anaknya.
- Menjadikan Allah sebagai tempat kembali
- Menjadikan ketaatan kepada Allah sebagai puncak segala kekuatan
Walaupun setiap anak diinstuksikan oleh Allah untuk taat dan berbakti kepada orang tuanya, namun ketaatannya tersebut tidak boleh mengalahkan kataatannya kepada Allah.
- Mengikuti jalan orang-orang yang kembali kepada Allah
- Berjiwa muraqabah
Jiwa muraqabah adalah jiwa yang senantiasa merasa dibawah pengawasan Allah. Semua tingkah lakunya baik yang tersembunyi dan yang terang-terangan, tidak akan lepas dari pengawasan dan penglihatan Allah. Dengan jiwa muraqabah ini akan bersikap hati-hati bila berbuat. Ia tahu ada “ waskat” ( pengawasan malaikat) yang terus menerus menyertainya.
- Senantiasa menegakan shalat
Shalat, yang keberadaannya di dalam agama islam sebagai tiang agama, adalah merupakan ciri khas seorang itu disebut muslim.
- Mampu menegakan amar makruf nahi mungkar
Merupakan pilar terwujudnya masyarakat muslim yang sesungguhnya. Suatu masyarakat akan roboh bila ruh amar makruf nahi mingkar telah hilang dari bagunannya.
- Sabar terhadap musibah yang menimpanya
Kalau shalat merupakan tiang agama, sedangkan amar makruf mungkar merupakan pilar masyarakat muslim, maka sabar adalah merupakan soko guru bangunan jiwa setiap muslim. Seorang muslim yang mempunyai kesabaran yang kokoh, ia tidak akan tergoyahkan oleh tiupan badai apapun. Baik badai itu berupa kemiskinan, godaan harta, musibah, dan lain sebagainya.
- Barakhlak mulia
Menghendaki agar anaknya jangan memalingkan muka ( meremehkan) terhadap orang lain, jangan sombong, berlakulah sederhana danberkatalah dengan suara yang lemah lembut.[5]
Berbuat baik kepada ibu bapak tidak saja harus dilakukan pada waktu keduanya masih hidup, tetapi juga sesudah keduanya meninggal dunia.
Dalam hal ini banyak orang berbuat kekeliruan. Kalau orang tua meninggal dunia , berbagai macam cara diadakan seperti kenduri/ selamatan dan tahlilan pada waktu-waktu tertentu: 3 hari setelah meninggalnya, 7 harinya, 40 harinya, 100 harinya, 1000 harinya.
Tindakan-tindakan ini tidak dapat dibenarkan. Tidak ada dasarnya didalam agama. Rosulullah juga tidak mencontohkannya dalam sunnah-sunnah beliau.
Cara-cara berbuat baik yang benar kepada orang tua (ibu bapak) yang telah meninggal dunia antara lain:
- Mengerjakan sholat jenazah bagi orang tua yang meninggal dunia.
- Berdo`a untuk almarhum, memohonkan ampun kepada Tuhan atas segala dosa-dosanya.
- Melaksanakan/ menyempurnakan janji yang telah dibuat oleh almarhum.
Kalau sewaktu hidupnya dahulu orang tua kita mempunyai sesuatu janji ( seperti wasiat, niat utuk sedekah jariah, wakaf, dan lain sebagainya), hendaknya kita melaksanakan janji orang tua kita itu kalau sampai meninggalkan janji belum juga dilaksanakan, atau menyempurnakannya kalau belum sempurna dilaksanakan.
Tetapi ini kalau janji itu adalah janji kebaikan. Kalau janji keburukan, tidak boleh kita melaksanakan atau menyempurnakannya.
- Memuliakan orang-orang yang dulu menjadi sahabat karib/ teman baik almarhum.
- Memberi pertolongan kepada keluarga yang hidupnya bergantung kepada almarhum.[6]
PENUTUP
Kesimpulan
Berbakti kepada kedua orang tua merupakan kewajiban bagi seorang anak karena mengingat banyak sekali jasa-jasa mereka terhadap kita antara lain:
§ Mereka telah merawat, menjaga dan memelihara kita agar kita menjadi orang yang seperti sekarang ini.
§ Mereka telah memberikan semua kebutuhan dan mencukupi keinginan kita agar kita merasa senang.
§ Banyak sekali pengorban yang tak terhitung mulai dari pengorbanan tenaga, pikiran, waktu dll
§ Keikhlasan dan kesabarannya mereka dalam mendidik dan membimbim kita
§ Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang gala
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur`an dan Terjemahnya, Bandung: CV Diponegoro, 2005
Dr. Juwariyah, M,Ag, Hadits Tarbawi. Yogyakarta.Teras.2010
Drs. H. Mangun Budiyanto, M.Si, Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta. Griya Santri. 2010
Drs. Humaldi Tatapangarsa, Akhlaq yang Mulia. Surabaya. PTBina Ilmu Offset.1980
Imam Nawawi, Terjemahan Riyadhus Shalihin. Jakarta. Pustaka Amani. 1999
Muhammad Ahmad Mudlofar Al-badar, Dosa Menyakiti Orang Tua. Gresik. CV Bintang Pelajar.1989
[3] Muhammad Ahmad Mudlofar Al-badar, Dosa Menyakiti Orang Tua. Gresik. CV Bintang Pelajar.1989 halm 14
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
komentar donk!!!!